Di ujung bosan.. pada hari keempat saat tubuh harus menyerah dengan demam dan hape tak juga mau berbunyi (bahkan untuk mc-mc iseng:-p), aku telusuri buku-buku yang tersusun manis di satu-satunya rak buku. Mendapatkan satu buku bersampul hijau dan orange, yang aku ingat, aku beli saat awal masuk kuliah hampir tiga tahun lalu. Buku yang baru sekali kubaca, kusampul, lalu aku tinggalkan. Bukan karena tak menarik. Hanya terlupa.
Tuesday With Morrie, judul buku itu. Sebuah buku yang merupakan proyek terakhir kolaborasi Profesor Morrie dan mahasiswanya. Sebuah buku yang bercerita tentang kuliah terakhir Morrie, dihadiri oleh satu-satunya mahasiswa, di setiap selasa. Perkuliahan yang berisi makna hidup. Juga berisi perjalanan Morrie menghadapi kematiannya sendiri, melawan amytrophic lateral sclerosis (ALS), sebuah penyakit ganas yang menyerang sistem syaraf.
ALS dapat dipadankan dengan sebatang lilin yang bernyala: api membakar sumbunya dan yang tersisa hanya seonggok lilin. Awalnya sering dimulai dari kaki, terus menjalar ke atas. Kita kehilangan kendali atas otot-otot paha, sampai tidak mampu berdiri lagi. Kita kehilangan kendali atas otot-otot punggung kita, sampai tidak mampu duduk tegak lagi. Akhirnya, andai pun masih hidup, kita hanya mampu bernapas lewat sebuah pipa yang ditusukkan ke tenggorokan, dan meskipun nyawa kita masih ada, kesadaran masih ada, semua itu terkungkung di dalam tubuh lumpuh, yang barangkali hanya mampu berkedip, atau berdecak.
Terbayangkah kita bila kita berada di posisi Morrie? Apa yang akan kita lakukan?
Morrie, menjalaninya dengan caranya sendiri. Dengan pandangan-pandangan yang unik, tentang rasa sakitnya, dunia, mengasihani diri sendiri, penyesalan diri, kematian, keluarga, emosi, takut menjadi tua, uang, cinta, perkawinan, budaya, maaf, hari yang paling baik, dan kata perpisahan.
Salah satu hal yang kusukai adalah pandangannya tentang mematikan rasa.
Mematikan perasaan tidak berarti kita tidak membiarkan pengalaman meresap ke dalam diri kita. Sebaliknya, kita membiarkan pengalaman meresap secara penuh. Itulah sebabnya kemudian kita bisa mematikan rasa.
Ambil contoh salah satu emosi-cinta kepada seorang wanita, atau kasihan kepada orang yang kita sayangi, atau yang tengah kualami, rasa takut dan rasa nyeri akibat penyakit mematikan. Apabila kita menahan emosi-emosi itu-kita tidak pernah membiarkan diri mengalaminya- kita tidak pernah dapat mematikan rasa, kita terlalu sibuk menghadapi rasa takut. Kita takut mengalami rasa nyeri, kita takut mengalami rasa sedih. Kita takut mengalami penderitaan akibat cinta.
Tapi dengan membiarkan diri mengalami emosi-emosi ini, dengan membiarkan diri terjun ke dalamnya, sampai sejauh-jauhnya, kita akan mengalaminya secara penuh dan utuh. Kita tahu arti sakit. Kita tahu arti cinta. Kita tahu arti sedih. Dan hanya ketika kita mengatakan, “Baiklah. Aku telah mengalami emosi itu. Aku kenal betul emosi itu. Sekarang aku perlu mematikan perasaan dari emosi itu untuk sementara.
Apa pendapatmu tentang mematikan rasa?

gue banget neh
April 7, 2009 @ 10:05 amtapi masalahe deffitha masih punya semangat untuk mematikan rasa gak,
kalo selamanya cuma membiarkan diri mengalami emosi ini,
selamanya juga deffitha ga akan pernah bisa mematikan rasa.
Cobalah menggapai sulur di tepi untuk berpegangan,
April 7, 2009 @ 10:06 amatau selamanya deffitha akan terus terjun ke jurang tanpa dasar.
Terbiasa…………….
semua terbiasa mati rasa
merasa yang tidak dirasa
yang dirasa tak terasa
mati rasa terbiasa
basi-bisa soal kata
seolah bisa namun basi
seakan basi tetapi bisa
rasa-rasanya akupun mati rasa
sekedar mengejar kata-kata
memperkosa prosa
memprosa pemerkosa
mengharap makna
memakna harapan
bermain kata
mengagungkan kata
mengerat kalimat
memaksa sahabat
salam nonreni
April 9, 2009 @ 3:49 pm