5 Desember 2009, adalah kali pertama saya menyandang gelar ibu. Tapi tentu berbeda, mengasuh seorang anak yang kala itu berumur 4 tahun dengan seorang bayi yang baru saja lahir. Dengan Akbar, saya tidak banyak mengalami kesulitan. Ia anak yang aktif, penurut, dan yang paling penting, Akbar bisa diajak berkomunikasi. Walaupun kadang, saya harus memberikan alasan yang benar-benar masuk akal, menurutnya, ketika saya menolak keinginannya (tapi kadang kami pun harus terlibat debat kecil dan berakhir dengan tangisan akbar
Berbeda dengan Affa..
Kepada seorang teman saya mengaku, mengandung dan melahirkan terasa tidak ada apa-apanya dibanding mengasuh Affa
Kenapa? Karena saya merasa benar-benar menjadi ibu baru. Terkadang saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, terjebak dengan mitos, merasa tak siap dengan perubahan, merasa tidak ada yang mengerti keinginan saya, dan tertekan.. ketika di satu titik saya merasa menjadi ibu yang tak baik. Apalagi ketika Affa mulai rewel hampir sepanjang waktu dan Akbar yang juga perlu diperhatikan. Ditambah, tidak ada satu orang pun yang membantu saya menghadapi dua anak kecil yang sama-sama perlu perhatian. Well, saat masa-masa itu datang, rasanya ingiiinnnn sekali menangis
Stop dulu deh jadi Ibu. Istirahat bentar.. saya juga perlu liburan kan?
Tapi.. ketika saya melihat mereka tertawa, saling berpelukan, bermain bersama. Melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan.. ketika saya merasa benar-benar bahagia, ketika Akbar tiba-tiba memeluk saya dan berkata, “Mas Akbar sayang Bunda” atau Affa yang mulai mampu mengekspresikan rasa sayangnya. Saya benar-benar tak ingin berhenti menjadi Ibu untuk mereka. Tidak! Saya ingin selalu menjadi Ibu, dengan banyak hal yang terjadi. Tak ingin saya menukarnya dengan apapun.. Bersyukur tiada henti, karena Allah memberi kesempatan saya untuk belajar dari anak-anak saya, karena Allah memberi saya kesempatan menjadi seorang Ibu..
Teringat sebuah sms bijak yang saya dapat dari sebuah diskusi forum theurbanmama.com, kata-kata yang juga menjadi penyemangat saya..
Menjadi ibu adalah sebuah karir, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sepanjang tahun, sepanjang hidup. Tidak ada cuti, tidak ada gaji, tidak ada bonus, tidak ada uang lembur, tidak ada tunjangan, dan kadang… tidak dihargai. Namun aku bahagia dan bangga dengan tugas itu. Karena tugasku langsung ditandatangani olehNya
so proud to be a mother, right?