tak pernah kutahu..
berapa lama kubisa melihat derai tawa dan candamu
tak pernah kutahu..
berapa lama kumampu hapus peluh dan letihmu
juga
tak pernah kutahu..
berapa lama kudapat bermanja padamu
yang kutahu
ada berjuta rangkaian kata, yang tak pernah habis untukmu
yang kan kuhadirkan disetiap detak jantungku
dan.. tak kan pernah bosan kuucap
hingga masa membuatku terhenti..menemanimu
cinta..
seperti kepingan puzzle
yang harus dicari..
yang harus digabungkan..
terkadang membuat dahi berkerut..
terkadang menyisakan seutas senyum..
hingga akhirnya kepingan-kepingan itu menjadi gambaran utuh
seperti itu juga satu perjalanan..
terlintas masa-masa yang lalu
memori yang ingin dikenang, yang smpat terlupa, dan yang tak ingin diingat
tiba-tiba hadir
menyapa dalam senyap
bila saja pikiran ini bisa memilih
tentu hanya kenangan indah yang ingin tersisa
amnesia pada kisah-kisah lara
bila saja..
tapi tak mampu
pikiran ini tetap berkelana..
jauh dari raga
mengingat semua kisah
di akhir mei ini..
di satu pagi pikiran ini melayang pada sebuah pertanyaan.. “Sebenarnya, apa yang menjadi sumber ketakutanku?” yang membuatku harus berhenti sejenak.. mencoba mencari tempat berpijak, bahkan terkadang harus mundur beberapa langkah?
dan..aku menemukan jawabannya..
aku takut kehilangan.. Ya.. Aku takut sekali kehilangan
aku takut kehilangan imanku, itu pasti. Tapi adakah ketakutanku yang lain?
lalu.. ingatanku tertuju pada bayangan samar wajah orang-orang yang pernah, dan masih, menjadi bagian dari perjalananku.. orang-orang yang mewarnai emosiku.. membentukku menjadi seseorang, seperti saat ini.
ternyata.. tak cukup banyak kata terlontar.. bahkan untuk sekedar mengatakan.. betapa mereka sangat berharga.. betapa aku merindukan waktu-waktu yang pernah kujalani bersama mereka.. betapa aku ingin mereka ada disini, bersamaku.. mendengar cerita mereka tentang hari.. tentang emosi.. tentang kami..
juga.. tak cukup banyak waktu tercipta.. untuk sebuah kebersamaan.. untuk canda tawa.. untuk memahami.. untuk memaafkan..
ya.. aku takut..
takut hanya memiliki sedikit memori tentang mereka.. takut terlupa.. tentang cara mereka tersenyum.. cara mereka tertawa.. cara mereka marah.. cara mereka sedih.. dan.. cara mereka menyayangiku..
Apa yang menjadi sumber ketakutanmu, Kawan?
Sepanjang hari ini..aku selalu mendengar kata CONTRENG.
Di pagi hari aku sudah mendengar percakapan ibu kos dengan anaknya yang masih kelas 2 SD.
“Yok, mandi. Trus nyontreng. Galih arep nyontreng partai opo?” (sembari menyebutkan nama-nama partai)
“Kabeh wae, Bu”
Di warung burjo, saat aku menunggu mie goreng telur datang..lagi-lagi kata CONTRENG jadi tren. Bahkan juga di plurk
Well, hari ini memang pesta demokrasi bagi rakyat Indonesia. Harapan besar bertumpu di generasi-generasi para legislatif yang nanti terpilih. Mewakili rakyat mengatur Indonesia. Meski banyak juga yang pesimis..para caleg yang mereka terpilih, hanya akan menumpuk kesenangan pribadi. Berusaha mengambil kembali jerih payah mereka semasa kampanye.
Tapi ada juga rakyat yang terlalu bingung memilih. Alasannya, terlalu banyak partai dan nama-nama caleg untuk dipilih. Haha..jadi ingat, seorang guru di SMA pernah berkata, “Indonesia itu memang negara demokrasi, tapi demokrasi yang keblinger. Lihat saja, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki paling banyak partai. Bandingkan dengan Amerika yang hanya ada 2 partai, atau juga Inggris dan negara-negara demokrasi lainnya yang hanya memiliki partai kurang dari 5 buah”.
Ah..tak perduli berapun partai yang ada di Indonesia..berapapun banyak caleg yang mencalonkan diri. Yang terpenting, semua orang-orang yang mengatasnamakan rakyat itu..benar-benar berjuang untuk rakyat. Membangun bersama Indonesia. Memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalu..
Hope..Indonesia tidak lagi menjadi negara berkembang, tapi bisa maju..:)
Di stasiun kota itu..
aku melihatmu
dengan kaos orange, kau balut kulitmu yang hitam legam
hasil dari gempuran terik dan hujan
lelah dan tak bersemangat, tak seperti biasa
Di stasiun kota itu..
Aku mendengar
cerita tentang ambisi
tentang keinginan
juga tentang aku
Di stasiun kota itu..
saat kereta melaju pelan meninggalkanku..
aku sadar..
aku menyayangimu.. lebih dari sebelumnya..
ayah..
Di ujung bosan.. pada hari keempat saat tubuh harus menyerah dengan demam dan hape tak juga mau berbunyi (bahkan untuk mc-mc iseng:-p), aku telusuri buku-buku yang tersusun manis di satu-satunya rak buku. Mendapatkan satu buku bersampul hijau dan orange, yang aku ingat, aku beli saat awal masuk kuliah hampir tiga tahun lalu. Buku yang baru sekali kubaca, kusampul, lalu aku tinggalkan. Bukan karena tak menarik. Hanya terlupa.
Tuesday With Morrie, judul buku itu. Sebuah buku yang merupakan proyek terakhir kolaborasi Profesor Morrie dan mahasiswanya. Sebuah buku yang bercerita tentang kuliah terakhir Morrie, dihadiri oleh satu-satunya mahasiswa, di setiap selasa. Perkuliahan yang berisi makna hidup. Juga berisi perjalanan Morrie menghadapi kematiannya sendiri, melawan amytrophic lateral sclerosis (ALS), sebuah penyakit ganas yang menyerang sistem syaraf.
ALS dapat dipadankan dengan sebatang lilin yang bernyala: api membakar sumbunya dan yang tersisa hanya seonggok lilin. Awalnya sering dimulai dari kaki, terus menjalar ke atas. Kita kehilangan kendali atas otot-otot paha, sampai tidak mampu berdiri lagi. Kita kehilangan kendali atas otot-otot punggung kita, sampai tidak mampu duduk tegak lagi. Akhirnya, andai pun masih hidup, kita hanya mampu bernapas lewat sebuah pipa yang ditusukkan ke tenggorokan, dan meskipun nyawa kita masih ada, kesadaran masih ada, semua itu terkungkung di dalam tubuh lumpuh, yang barangkali hanya mampu berkedip, atau berdecak.
Terbayangkah kita bila kita berada di posisi Morrie? Apa yang akan kita lakukan?
Morrie, menjalaninya dengan caranya sendiri. Dengan pandangan-pandangan yang unik, tentang rasa sakitnya, dunia, mengasihani diri sendiri, penyesalan diri, kematian, keluarga, emosi, takut menjadi tua, uang, cinta, perkawinan, budaya, maaf, hari yang paling baik, dan kata perpisahan.
Salah satu hal yang kusukai adalah pandangannya tentang mematikan rasa.
Mematikan perasaan tidak berarti kita tidak membiarkan pengalaman meresap ke dalam diri kita. Sebaliknya, kita membiarkan pengalaman meresap secara penuh. Itulah sebabnya kemudian kita bisa mematikan rasa.
Ambil contoh salah satu emosi-cinta kepada seorang wanita, atau kasihan kepada orang yang kita sayangi, atau yang tengah kualami, rasa takut dan rasa nyeri akibat penyakit mematikan. Apabila kita menahan emosi-emosi itu-kita tidak pernah membiarkan diri mengalaminya- kita tidak pernah dapat mematikan rasa, kita terlalu sibuk menghadapi rasa takut. Kita takut mengalami rasa nyeri, kita takut mengalami rasa sedih. Kita takut mengalami penderitaan akibat cinta.
Tapi dengan membiarkan diri mengalami emosi-emosi ini, dengan membiarkan diri terjun ke dalamnya, sampai sejauh-jauhnya, kita akan mengalaminya secara penuh dan utuh. Kita tahu arti sakit. Kita tahu arti cinta. Kita tahu arti sedih. Dan hanya ketika kita mengatakan, “Baiklah. Aku telah mengalami emosi itu. Aku kenal betul emosi itu. Sekarang aku perlu mematikan perasaan dari emosi itu untuk sementara.
Apa pendapatmu tentang mematikan rasa?
do not say: God, I have a big problem. but say: hey problem, I have a big God
Sebaris tulisan itu kubaca saat kubolak-balik lembar demi lembar sebuah buku
Sebaris kata yang kadang kulupa saat begitu banyak masalah datang bertubi-tubi, tanpa henti
Sebaris kata yang tak terucap kala diri ini nyaman dengan keluhan, kekecewaan, dan kemarahan padaNya
Sebaris kata yang mengingatkanku.. bahwa selalu ada Dia di setiap nadi dan detak jantungku
Sebaris kata yang menguatkanku.. karena aku tahu … Ia tak pernah memberiku ujian lebih dari batas kemampuanku
Di teras, aku habiskan waktu bersama Eyang putri, yang lebih suka kupanggil Ibu Kediri karena beliau tinggal disana, Sekedar menikmati malam, menjawab pertanyaan-pertayaan, atau mendengar kisah-kisah beliau
Kisah nekat yang mungkin tak semua orang terbiasa melakukannya. Melakukan perjalanan-perjalanan ke sanak saudara di usianya yang mulai senja, sendirian. Tanpa bekal no tlp, catatan alamat, dan sering, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Hanya bermodal ingatan dan kepercayaan: bahwa Allah selalu bersamanya, apapun yang terjadi
Begitu juga, perjalanannya kali ini ke Yogyakarta. Mas Ipin, adik mama yang paling kecil, hanya memberitahu bahwa Ibu sudah berangkat beberapa jam yang lalu ke Yogyakarta, tanpa memberi alamat dan no hp Om Yudi, adik mama yang di Yogya, atau alamat dan no hpku. Ibu yang yakin akan dijemput, setia menunggu di stasiun. Lama Ibu menunggu, jemputan belum kunjung datang. Ibu mulai cemas. Beliau bolak-balik melihat pintu masuk, siapa tahu ada wajah yang Ibu kenal. Tiga orang mahasiswa yang melihat Ibu merasa iba. Ibu ditawari menginap di kosnya bila memang jemputan tidak datang malam itu dan esok mereka bersama akan mencari rumah Om Yudi. Meski tanpa alamat dan no hp. Kalau hal itu benar-benar terjadi, bukankah seperti mencari jarum dalam jerami? Tapi alhamdulillah, Om Yudi akhirnya datang menjemput Ibu.
Lain kisah, saat beliau berkunjung ke rumah kami di Tasikmalaya. Saat itu kami terkejut karena Ibu tiba-tiba datang dengan seorang saudara tanpa memberitahu kedatangannya terlebih dahulu. Kami heran, mengapa Ibu tidak langsung menghubungi kami, tapi malah menghubungi saudara ayah? Usut punya usut, ternyata Ibu datang menggunakan travel. Tapi dengan tidak bijaksana, travel itu menurunkan Ibu di stasiun Tasikmalaya, padahal waktu itu masih jam 2 pagi. Ibu yang kebingungan, hanya diam di depan stasiun. Hingga seorang bapak mempersilahkan Ibu masuk dan memberi bangku. Lepas shubuh, Ibu memutuskan mencari alamat lama kami. Sekali lagi, hanya berbekal ingatan, Ibu akhrinya menemukan rumah lama kami. Tapi tentu saja, kami sudah lama pindah. Lama Ibu terdiam di pagar rumah. Ibu tetap berada disana sampai seseorang lewat depan rumah. Beruntungnya Ibu, ia mengenal saudara ayah yang tinggal tak jauh dari sana.
Di kunjungan pertamanya ke rumah lama kami, dua kali Ibu kediri membuat kami sangat khawatir karena beliau tiba-tiba menghilang. Pertama, beliau memutuskan jalan-jalan pagi tanpa memberitahu kami. Di rumah, kami kebingungan mencari Ibu. Ama, adikku, yang ditugaskan mencari Ibu dengan sepeda akhirnya menjumpai Ibu di jalan yang lumayan jauh dari rumah. Ternyata, Ibu juga kebingungan mencari jalan pulang. Ibu bilang sebelum pergi, Beliau mengingat-ingat masjid di dekat rumah kami sebagai jalan pulang. Tapi Ibu tak tahu, Tasikmalaya memiliki banyak sekali masjid, bahkan di satu RT bisa ada dua masjid. Saat beliau sadar makin banyak masjid yang ditemui, beliau makin kebingungan mencari jalan pulang. Kedua, saat Ibu memutuskan menjemput Ama dan Aris, kedua adikku yang saat itu masih SD. Lagi-lagi tanpa memberitahu, Ibu dengan yakin naik sebuah angkot yang lewat di depan rumah. Padahal, Ibu tak pernah tahu nama SD tempat adik bersekolah, apalagi alamat sekolahnya. Di Angkot, Ibu hanya mampu berdoa. Entah, sudah berapa putaran Ibu mengikuti trayek angkot itu. Hingga, dengan pertolongan-Nya, Aris yang semula ingin menghentikan angkot 01, mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk naik angkot berikutnya. Dan disanalah dia menemukan Ibu yang komat-kamit, berdoa sepanjang waktu. Ibu yang melihat Aris langsung sumringah. Akhirnya, sepanjang hari itu, kami mewanti-wanti Ibu agar tidak keluar sendirian.
Ibu Kediri memang Eyangku yang paling unik. Seringkali ia memutuskan bepergian sendirian. Ke Surabaya, Malang, Jember, dan kota-kota di Jawa Timur lainnya untuk bersilaturahim dengan sanak saudara. Mencari rumah saudara yang sudah lama tak dikunjunginya, meski harus tersesat. Larangan dari keluarga, diindahkannya
Ibu bilang, beliau akan tetap melakukannya selama Allah masih memberi kesehatan. “Ibu cuma ingin terus menyambung silaturahim,” begitu ucap Ibu saat kutanya alasan kenekatan beliau. Dan di ujung perbincangan kala itu..terbersit doa untuku..”Semoga Ia juga masih diberi kesehatan untuk melihatku berkeluarga, mengunjungiku, dan menimang cicit dari cucu pertamanya”. Aku hanya tersenyum. Eyang, aku pun berharap Eyang masih ada bila saat itu datang, entah kapan. Menemaniku melalui hari seperti engkau menemaniku saat aku kecil dulu. Bercanda dan memaknai setiap kisahmu.
Eyang…love you so much..
2009, tahunnya pemilu bagi bangsa Indonesia. Media memuat berbagai berita ter-up date tentang tingkah polah politisi kita. Dari mulai politisi daerah hingga politisi kaliber nasional
Tapi miris.. saat Indonesia memerlukan mereka untuk bersama-sama membangun negara. Politisi satu dengan politisi lain malah saling hujat. Gagal, itulah kata yang sering terlontar dari mereka.
Apa ini watak politisi kita? Berdalih perjuangannya untuk rakyat, tapi bekerjasama saja tak becus. Mengatasnamakan perbedaan visi misi, lantas menjatuhkan satu sama lain?
Apa ini watak politisi kita? Dimana prinsip gotong royong yang digembar-gemborkan sebagai sifat bangsa kita?
Memperbaiki bangsa memang perlu waktu. Pun, mengatasi krisis yang terjadi. Tak bisa diselesaikan secepat membalikkan telapak tangan.
Seperti filosofi sapu lidi. Mudah menghancurkan satu batang lidi. Tetapi beribu batang lidi yang terikat menjadi satu, tak kan mampu dipatahkan dengan mudah.
