Menjadi Ibu..

5 Desember 2009, adalah kali pertama saya menyandang gelar ibu. Tapi tentu berbeda, mengasuh seorang anak yang kala itu berumur 4 tahun dengan seorang bayi yang baru saja lahir. Dengan Akbar, saya tidak banyak mengalami kesulitan. Ia anak yang aktif, penurut, dan yang paling penting, Akbar bisa diajak berkomunikasi. Walaupun kadang, saya harus memberikan alasan yang benar-benar masuk akal, menurutnya, ketika saya menolak keinginannya (tapi kadang kami pun harus terlibat debat kecil dan berakhir dengan tangisan akbar :)

Berbeda dengan Affa..

Kepada seorang teman saya mengaku, mengandung dan melahirkan terasa tidak ada apa-apanya dibanding mengasuh Affa :) Kenapa? Karena saya merasa benar-benar menjadi ibu baru. Terkadang saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, terjebak dengan mitos, merasa tak siap dengan perubahan, merasa tidak ada yang mengerti keinginan saya, dan tertekan.. ketika di satu titik saya merasa menjadi ibu yang tak baik. Apalagi ketika Affa mulai rewel hampir sepanjang waktu dan Akbar yang juga perlu diperhatikan. Ditambah, tidak ada satu orang pun yang membantu saya menghadapi dua anak kecil yang sama-sama perlu perhatian. Well, saat masa-masa itu datang, rasanya ingiiinnnn sekali menangis :(

Stop dulu deh jadi Ibu. Istirahat bentar.. saya juga perlu liburan kan? :)

Tapi.. ketika saya melihat mereka tertawa, saling berpelukan, bermain bersama. Melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Dan.. ketika saya merasa benar-benar bahagia, ketika Akbar tiba-tiba memeluk saya dan berkata, “Mas Akbar sayang Bunda” atau Affa yang mulai mampu mengekspresikan rasa sayangnya. Saya benar-benar tak ingin berhenti menjadi Ibu untuk mereka. Tidak! Saya ingin selalu menjadi Ibu, dengan banyak hal yang terjadi. Tak ingin saya menukarnya dengan apapun.. Bersyukur tiada henti, karena Allah memberi kesempatan saya untuk belajar dari anak-anak saya, karena Allah memberi saya kesempatan menjadi seorang Ibu..

Teringat sebuah sms bijak yang saya dapat dari sebuah diskusi forum theurbanmama.com, kata-kata yang juga menjadi penyemangat saya..

Menjadi ibu adalah sebuah karir, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sepanjang tahun, sepanjang hidup. Tidak ada cuti, tidak ada gaji, tidak ada bonus, tidak ada uang lembur, tidak ada tunjangan, dan kadang… tidak dihargai. Namun aku bahagia dan bangga dengan tugas itu. Karena tugasku langsung ditandatangani olehNya

so proud to be a mother, right? :)

 

2 Komentar

doaku

masih juga kulihat, di pinggir-pinggir jalan..

wajah lelah dan tirus..

menahan getir..

hidup

mata sayu..

menatap tumpukan barang yang hanya sedikit berkurang dari hari ke hari

ku ingat ayahku yang juga berdagang..

peluh yang tak ia rasa

dan

ucap syukur yang tak pernah alpa

meski kadang tak banyak yang bisa didapat

untuk mereka..

untuk ayah..

tak pernah doa terlepas

semoga tetesan keringat yang kalian cucurkan, tak kan pernah sia-sia

Dipublikasi di corat-coret ati | 1 Komentar

rangkaian kata.. untukmu

tak pernah kutahu..
berapa lama kubisa melihat derai tawa dan candamu
tak pernah kutahu..
berapa lama kumampu hapus peluh dan letihmu
juga
tak pernah kutahu..
berapa lama kudapat bermanja padamu

yang kutahu
ada berjuta rangkaian kata, yang tak pernah habis untukmu
yang kan kuhadirkan disetiap detak jantungku
dan.. tak kan pernah bosan kuucap
hingga masa membuatku terhenti..menemanimu

cinta..

Dipublikasi di corat-coret ati | 5 Komentar

kepingan puzzle

seperti kepingan puzzle
yang harus dicari..
yang harus digabungkan..
terkadang membuat dahi berkerut..
terkadang menyisakan seutas senyum..
hingga akhirnya kepingan-kepingan itu menjadi gambaran utuh

seperti itu juga satu perjalanan..

Dipublikasi di corat-coret ati | 4 Komentar

di akhir mei

terlintas masa-masa yang lalu
memori yang ingin dikenang, yang smpat terlupa, dan yang tak ingin diingat
tiba-tiba hadir
menyapa dalam senyap

bila saja pikiran ini bisa memilih
tentu hanya kenangan indah yang ingin tersisa
amnesia pada kisah-kisah lara

bila saja..

tapi tak mampu
pikiran ini tetap berkelana..
jauh dari raga
mengingat semua kisah

di akhir mei ini..

Dipublikasi di corat-coret ati | 2 Komentar

my fear..

di satu pagi pikiran ini melayang pada sebuah pertanyaan.. “Sebenarnya, apa yang menjadi sumber ketakutanku?” yang membuatku harus berhenti sejenak.. mencoba mencari tempat berpijak, bahkan terkadang harus mundur beberapa langkah?

dan..aku menemukan jawabannya..

aku takut kehilangan.. Ya.. Aku takut sekali kehilangan

aku takut kehilangan imanku, itu pasti. Tapi adakah ketakutanku yang lain?

lalu.. ingatanku tertuju pada bayangan samar wajah orang-orang yang pernah, dan masih, menjadi bagian dari perjalananku.. orang-orang yang mewarnai emosiku.. membentukku menjadi seseorang, seperti saat ini.

ternyata.. tak cukup banyak kata terlontar.. bahkan untuk sekedar mengatakan.. betapa mereka sangat berharga.. betapa aku merindukan waktu-waktu yang pernah kujalani bersama mereka.. betapa aku ingin mereka ada disini, bersamaku.. mendengar cerita mereka tentang hari.. tentang emosi.. tentang kami..

juga.. tak cukup banyak waktu tercipta.. untuk sebuah kebersamaan.. untuk canda tawa.. untuk memahami.. untuk memaafkan..

ya.. aku takut..

takut hanya memiliki sedikit memori tentang mereka.. takut terlupa.. tentang cara mereka tersenyum.. cara mereka tertawa.. cara mereka marah.. cara mereka sedih.. dan.. cara mereka menyayangiku..

Apa yang menjadi sumber ketakutanmu, Kawan?

Dipublikasi di corat-coret ati | 3 Komentar

Contreng..

Sepanjang hari ini..aku selalu mendengar kata CONTRENG.

Di pagi hari aku sudah mendengar percakapan ibu kos dengan anaknya yang masih kelas 2 SD.

“Yok, mandi. Trus nyontreng. Galih arep nyontreng partai opo?” (sembari menyebutkan nama-nama partai)

“Kabeh wae, Bu”

Di warung burjo, saat aku menunggu mie goreng telur datang..lagi-lagi kata CONTRENG jadi tren. Bahkan juga di plurk :)

Well, hari ini memang pesta demokrasi bagi rakyat Indonesia. Harapan besar bertumpu di generasi-generasi para legislatif yang nanti terpilih. Mewakili rakyat mengatur Indonesia. Meski banyak juga yang pesimis..para caleg yang mereka terpilih, hanya akan menumpuk kesenangan pribadi. Berusaha mengambil kembali jerih payah mereka semasa kampanye.

Tapi ada juga rakyat yang terlalu bingung memilih. Alasannya, terlalu banyak partai dan nama-nama caleg untuk dipilih. Haha..jadi ingat, seorang guru di SMA pernah berkata, “Indonesia itu memang negara demokrasi, tapi demokrasi yang keblinger. Lihat saja, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki paling banyak partai. Bandingkan dengan Amerika yang hanya ada 2 partai, atau juga Inggris dan negara-negara demokrasi lainnya yang hanya memiliki partai kurang dari 5 buah”.

Ah..tak perduli berapun partai yang ada di Indonesia..berapapun banyak caleg yang mencalonkan diri. Yang terpenting, semua orang-orang yang mengatasnamakan rakyat itu..benar-benar berjuang untuk rakyat. Membangun bersama Indonesia. Memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalu..

Hope..Indonesia tidak lagi menjadi negara berkembang, tapi bisa maju..:)

Dipublikasi di corat-coret ati | Tinggalkan Komentar

Di stasiun kota

Di stasiun kota itu..

aku melihatmu

dengan kaos orange, kau balut kulitmu yang hitam legam

hasil dari gempuran terik dan hujan

lelah dan tak bersemangat, tak seperti biasa

Di stasiun kota itu..

Aku mendengar

cerita tentang ambisi

tentang keinginan

juga tentang aku

Di stasiun kota itu..

saat kereta melaju pelan meninggalkanku..

aku sadar..

aku menyayangimu.. lebih dari sebelumnya..

ayah..

Dipublikasi di corat-coret ati | 1 Komentar

mematikan rasa..

Di ujung bosan.. pada hari keempat saat tubuh harus menyerah dengan demam dan hape tak juga mau berbunyi (bahkan untuk mc-mc iseng:-p), aku telusuri buku-buku yang tersusun manis di satu-satunya rak buku. Mendapatkan satu buku bersampul hijau dan orange, yang aku ingat, aku beli saat awal masuk kuliah hampir tiga tahun lalu. Buku yang baru sekali kubaca, kusampul, lalu aku tinggalkan. Bukan karena tak menarik. Hanya terlupa.

Tuesday With Morrie, judul buku itu. Sebuah buku yang merupakan proyek terakhir kolaborasi Profesor Morrie dan mahasiswanya. Sebuah buku yang bercerita tentang kuliah terakhir Morrie, dihadiri oleh satu-satunya mahasiswa, di setiap selasa.  Perkuliahan yang berisi makna hidup. Juga berisi perjalanan Morrie menghadapi kematiannya sendiri, melawan amytrophic lateral sclerosis (ALS), sebuah penyakit ganas yang menyerang sistem syaraf.

 ALS dapat dipadankan dengan sebatang lilin yang bernyala: api membakar sumbunya dan yang tersisa hanya seonggok lilin. Awalnya sering dimulai dari kaki, terus menjalar ke atas. Kita kehilangan kendali atas otot-otot paha, sampai tidak mampu berdiri lagi. Kita kehilangan kendali atas otot-otot punggung kita, sampai tidak mampu duduk tegak lagi. Akhirnya, andai pun masih hidup, kita hanya mampu bernapas lewat sebuah pipa yang ditusukkan ke tenggorokan, dan meskipun nyawa kita masih ada, kesadaran masih ada, semua itu terkungkung di dalam tubuh lumpuh, yang barangkali hanya mampu berkedip, atau berdecak.

Terbayangkah kita bila kita berada di posisi Morrie? Apa yang akan kita lakukan?

Morrie, menjalaninya dengan caranya sendiri. Dengan pandangan-pandangan yang unik, tentang rasa sakitnya, dunia, mengasihani diri sendiri, penyesalan diri, kematian, keluarga, emosi, takut menjadi tua, uang, cinta, perkawinan, budaya, maaf, hari yang paling baik, dan kata perpisahan.

Salah satu hal yang kusukai adalah pandangannya tentang mematikan rasa.

Mematikan perasaan tidak berarti kita tidak membiarkan pengalaman meresap ke dalam diri kita. Sebaliknya, kita membiarkan pengalaman meresap secara penuh. Itulah sebabnya kemudian kita bisa mematikan rasa.

Ambil contoh salah satu emosi-cinta kepada seorang wanita, atau kasihan kepada orang yang kita sayangi, atau yang tengah kualami, rasa takut dan rasa nyeri akibat penyakit mematikan. Apabila kita menahan emosi-emosi itu-kita tidak pernah membiarkan diri mengalaminya- kita tidak pernah dapat mematikan rasa, kita terlalu sibuk menghadapi rasa takut. Kita takut mengalami rasa nyeri, kita takut mengalami rasa sedih. Kita takut mengalami penderitaan akibat cinta.

Tapi dengan membiarkan diri mengalami emosi-emosi ini, dengan membiarkan diri terjun ke dalamnya, sampai sejauh-jauhnya, kita akan mengalaminya secara penuh dan utuh. Kita tahu arti sakit. Kita tahu arti cinta. Kita tahu arti sedih. Dan hanya ketika kita mengatakan, “Baiklah. Aku telah mengalami emosi itu. Aku kenal betul emosi itu. Sekarang aku perlu mematikan perasaan dari emosi itu untuk sementara. 

Apa pendapatmu tentang mematikan rasa?

Dipublikasi di corat-coret ati | 3 Komentar

Do not Say..

do not say: God, I have a big problem. but say: hey problem, I have a big God

Sebaris tulisan itu kubaca saat kubolak-balik lembar demi lembar sebuah buku

Sebaris kata yang kadang kulupa saat begitu banyak masalah datang bertubi-tubi, tanpa henti

Sebaris kata yang tak terucap kala diri ini nyaman dengan keluhan, kekecewaan, dan kemarahan padaNya

Sebaris kata yang mengingatkanku.. bahwa selalu ada Dia di setiap nadi dan detak jantungku

Sebaris kata yang menguatkanku.. karena aku tahu … Ia tak pernah memberiku ujian lebih dari batas kemampuanku

Dipublikasi di corat-coret ati | 2 Komentar